Sumber : http://m-wali.blogspot.com/2011/12/membuat-teks-berjalan-di-menu-bar.html#ixzz1gm44gTrc Maret 2012 ~ WTOSCHA_90

Sabtu, 31 Maret 2012

Pembuatan Asam Asetat : BAB IV

BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
1. Bahan dasar dari pembuatan asam asetat menggunakan metode monsanto ialah methanol. Prinsip pembuatannya ialah methanol direaksikan dengan gas CO menghasilkan asam asetat difasilitasi katalis rhodium. Katalis rhodium bekerja pada tekanan antara 200 - 1800 lb/in2.
2. Pembuatan asam asetat dengan metode Monsanto lebih baik daripada metode lain karena alasan sebagai berikut :
- Yield reaksi yang tinggi ( 90-99% ) dan hasil samping yang rendah
- Bahan baku yang mudah diperoleh dari dalam negeri dengan harga lebih murah
- Reaktor bekerja pada tekanan yang tidak terlalu tinggi (30 atm) sehingga mudah dicapai.
4.2. Saran
1. Proses produksi asam asetat sebaiknya dilakukan pada tekanan besar dan suhu rendah.
2. Industri asam asetat sebaiknya menggunakan metode Monsanto.

Pembuatan Asam Asetat : BAB III

BAB III

PROSES PEMBUATAN ASAM ASETAT



3.1. Proses Pembuatan Asam Asetat

Teknologi pembuatan asam asetat mungkin yang paling beragam dari pembuatan semua bahan kimia organik industri. Ada beberapa teknik yang digunakan dalam pembuatan asam asetat, diantaranya ialah; karbonilasi methanol, sintesis gas metan, oksidasi asetaldehida, oksidasi etilena, oksidasi alkana, oksidatif fermentasi, dan anaerob fermentasi. Karbonilisasi methanol merupakan teknik yang umum digunakan dalam industri asam asetat dan menjadi teknik penghasil asam asetat lebih dari 65% dari kapasitas global. Dari asam asetat yang diproduksi oleh industri kimia, 75% diantaranya diproduksi melalui karbonilasi metanol. Sisanya dihasilkan melalui metode-metode alternatif.

3.1.1. Karbonilasi Metanol

Kebanyakan asam asetat murni dihasilkan melalui karbonilasi. Dalam reaksi ini, metanol dan karbon monoksida bereaksi menghasilkan asam
asetat.
CH3OH + CO → CH3COOH
reaksi itu sendiri terjadi dalam tiga tahap :
(1) CH3OH + HI → CH3I + H2O
(2) CH3I + CO → CH3COI
(3) CH3COI + H2O → CH3COOH + HI

Proses karbonilasi methanol dibagi lagi menjadi dua macam, yaitu proses BASF dan proses Monsanto. Metode Monsanto dikembangkan oleh pabrik Perusahaan Monsanto di Texas City. Keunggulan dari metode ini ialah dapat dijalankan pada tekanan yang rendah. Bahan dasar dari pembuatan asam asetat menggunakan metode ini ialah methanol. Prinsip pembuatannya ialah methanol direaksikan dengan gas CO menghasilkan asam asetat difasilitasi katalis rhodium. Sebelumnya pembuatan asam asetat dengan teknik BASF dapat dilakukan dengan menggunakan katalis iodine promoted kobalt, namun kurang efektif dalam hal biaya karena katalis ini bekerja pada tekanan tinggi yakni sekitar 7.500 lb/in2. Sedangkan katalis rhodium bekerja pada tekanan antara 200 - 1800 lb/in2. Katalis rhodium menghasilkan asam asetat sampai 99 % sedangkan katalis iodinepromotedkobalt hanya sekitar 90 % saja.

Mekanisme kerja proses monsanto berjalan dengan beberapa tahap,
1. Siklus katalitik konversi metanol menjadi metiliodida
CH3OH + HI CH3I + H2O
1. Penambahan katalis Rh (I) kompleks (d8 segi empat planar) ke dalam metil iodida menghasilkan struktur baru koordinat 6 alkil rhodium (III) kompleks (d6).CH3I + [Rh-kompleks]

3.1.2. Oksidasi n-butana

n-butana (secara komersial terdiri dari 95% n-butana, 2,5% isobutana, dan 2,5% pentana) dioksidasikan dengan bantuan katalis cobalt atau mangan asetat.
Reaksi:
2 C4H10 + 5 O2 → 4 CH3COOH + 2 H2O

3.1.3. Oksidasi Asetaldehid

Asetaldehida dapat dioksidasi oleh oksigen udara menghasilkan asam asetat. Kondisi reaksi pada umumnya sekitar 150°C and 55 atm.
Reaksi:
2 CH3CHO + O2 → 2 CH3COOH

Dari beberapa proses pembuatan asam asetat tersebut di atas, maka dipilih pembuatan asam asetat Proses Monsanto dengan alasan-alasan sebagai berikut :

1. Yield reaksi yang tinggi ( 90-99% ) dan hasil samping yang rendah
2. Bahan baku yang mudah diperoleh dari dalam negeri dengan harga
lebih murah
3. Reaktor bekerja pada tekanan yang tidak terlalu tinggi (30 atm)
sehingga mudah dicapai.

Pembuatan Asam Asetat : BAB II

BAB II
BAHAN BAKU DAN PRODUK

2.1. Bahan Baku
2.1.1. Metanol

Metanol, juga dikenal sebagai metil alkohol, wood alcoholatauspiritus, adalah senyawa kimia dengan rumus kimia CH3OH. Ia merupakanb entuk alkohol paling sederhana. Pada "keadaan atmosfer" ia berbentuk cairan yang ringan, mudah menguap, tidak berwarna, mudah terbakar, dan beracun dengan bau yang khas (berbau lebih ringan daripada etanol). Metanol digunakan sebagai bahan baku pembuatan asam asetat dengan metode karbonilasi methanol.

Metanol diproduksi secara alami oleh metabolisme anaerobik oleh bakteri. Hasil proses tersebut adalah uap metanol (dalam jumlah kecil) di udara. Setelah beberapa hari, uap methanol tersebut akan teroksidasi oleh oksigen dengan bantuan sinar matahari menjadi karbondioksida dan air.

2.1.2. Iodida

Peran iodida adalah hanya untuk mempromosikan konversi methanol menjadi metil iodide:

MeOH + HI MeI + H2O

Setelah metil iodida telah terbentuk maka diteruskan ke reaktor katalis. Siklus katalitik dimulai dengan penambahan oksidatif metil iodida ke dalam [Rh(CO)2I2]- sehingga terbentuk kompleks [MeRh(CO)I3]-

2.1.3. Rhodium (cis−[Rh(CO)2I2]−)
Rhodium (cis−[Rh(CO)2I2]−) berperan sebagai katalis dalam proses pembuatan asam asetat dalam skala industri. Katalis ini sangat aktif sehingga akan memberikan reaksi dan distribusi produk yang baik.

2.1.4. Iridium ([Ir(CO)2I2]−)

Iridium ([Ir(CO)2I2]−) berperan sebagai katalis dalam proses pembuatan asam asetat dalam skala industri.Penggunaan iridium memungkinkan penggunaan air lebih sedikit dalam campuran reaksi.

2.2. Produk (Asam Asetat)

Asam asetat yang jelas, cairan tak berwarna dengan rumus kimia C2H4O2. .Memiliki titik leleh 62,06°F (16.7°C) dan mendidih pada 244,4°F (118°C), kerapatan 1,049g/mL pada 25oC dan flash point 390C. Dalam konsentrasi tinggi,asam asetat bersifat korosif, memiliki bau tajam dan dapat menyebabkan luka bakar pada kulit.

Atom hidrogen (H) pada guguskarboksil (−COOH) dalam asam karboksilat seperti asam asetat dapat dilepaskan sebagai ion H+ (proton), sehingga memberikan sifat asam. Asam asetat adalah asam lemah monoprotik dengan nilai pKa=4.8. Basa konjugasinya adalah asetat (CH3COO−). Sebuah larutan 1.0 M asam asetat (kira-kira sama dengan konsentrasi pada cuka rumah) memiliki pH sekitar 2.4.

Struktur kristal asam asetat menunjukkan bahwa molekul-molekul asam asetat berpasangan membentuk dimer yang dihubungkan oleh ikatan hidrogen. Dimer juga dapat dideteksi pada uapbersuhu 120°C. Dimer juga terjadi pada larutan encer di dalam pelarut tak-berikatan-hidrogen, dan kadang-kadang pada cairan asam asetat murni Dimer dirusak dengan adanya pelarut berikatan hidrogen (misalnya air). Entalpi disosiasi dimer tersebut diperkirakan 65.0–66.0 kJ/mol, entropi disosiasi sekitar 154–157 J mol–1 K–1.

Asam asetat bersifat korosif terhadap banyak logam seperti besi, magnesium, dan seng, membentuk gas hidrogen dan garam-garam asetat (disebut logam asetat). Logam asetat juga dapat diperoleh dengan reaksi asam asetat dengan suatu basa. Contohnya adalah soda kue (Natrium bikarbonat) bereaksi dengan cuka. Hampir semua garam asetat larut dengan baik dalam air. Contoh reaksi pembentukan garam asetat:

Mg(s) + 2 CH3COOH(aq) → (CH3COO)2Mg(aq) + H2(g)
NaHCO3(s) + CH3COOH(aq) → CH3COONa(aq) + CO2(g) + H2O(l)

Asam asetat mengalami reaksi-reaksiasam karboksilat, misalnya menghasilkan garam asetat bila bereaksi dengan alkali, menghasilkan logam etanoat bila bereaksi dengan logam, dan menghasilkan logam etanoat, air dan karbondioksida bila bereaksi dengan garam karbonat atau bikarbonat. Reaksi organik yang paling terkenal dari asam asetat adalah pembentukan etanol melalui reduksi, pembentukan turunan asam karboksilat seperti asetil klorida atau anhidrida asetat melalui substitusi nukleofilik.

Nama sistematis : Asam etanoat, Asam asetat
Nama alternatif : Asam metanakarboksilat
Asetil hidroksida : (AcOH)
Hidrogen asetat : (HAc) Asam cuka
Rumus molekul : CH3COOH
Massa molar : 60.05 g/mol
Densitas dan fase : 1.049 g cm−3, cairan 1.266 g cm−3, padatan
Titik lebur : 16.5 °C (289.6 ± 0.5 K) (61.6 °F)
Titik didih : 118.1 °C (391.2 ± 0.6 K) (244.5 °F)
Penampilan : Cairan tak berwarna atau kristal
Keasaman (pKa) : 4.76 pada 25°C

Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimia asam organik yang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan. Asam cuka memiliki rumus empiris C2H4O2. Rumus ini seringkali ditulis dalam bentuk CH3-COOH, CH3COOH, atau CH3CO2H. Asam asetat murni (disebut asam asetat glasial) adalah cairan higroskopis tak berwarna, dan memiliki titik beku 16.7°C.

Asam asetat merupakan salah satu asam karboksilat paling sederhana, setelah asam format. Larutan asam asetat dalam air merupakan sebuah asam lemah, artinya hanya terdisosiasi sebagian menjadi ion H+ dan CH3COO-. Asam asetat merupakan pereaksi kimia dan bahan baku industri yang penting. Asam asetat digunakan dalam produksi polimer seperti polietilena tereftalat, selulosa asetat, dan polivinil asetat, maupun berbagai macam serat dan kain. Dalam industri makanan, asam asetat digunakan sebagai pengatur keasaman. Di rumah tangga, asam asetat encer juga sering digunakan sebagai pelunak air. Dalam setahun, kebutuhan dunia akan asam asetat mencapai 6,5 juta ton per tahun. 1.5 juta ton per tahun diperoleh dari hasil daur ulang, sisanya diperoleh dari industri petrokimia maupun dari sumber hayati.

Asam asetat merupakan nama trivial atau nama dagang dari senyawa ini, dan merupakan nama yang paling dianjurkan oleh IUPAC. Nama ini berasal dari kata Latin acetum, yang berarti cuka. Nama sistematis dari senyawa ini adalah asam etanoat. Asam asetat glasial merupakan nama trivial yang merujuk pada asam asetat yang tidak bercampur air. Disebut demikian karena asam asetat bebas-air membentuk kristal mirip es pada 16.7°C, sedikit di bawah suhu ruang. Singkatan yang paling sering digunakan, dan merupakat singkatan resmi bagi asam asetat adalah AcOH atau HOAc dimana Ac berarti gugus asetil, CH3−C(=O)−. Pada konteks asam-basa, asam asetat juga sering disingkat HAc, meskipun banyak yang menganggap singkatan ini tidak benar. Ac juga tidak boleh disalahartikan dengan lambang unsur Aktinium (Ac).

Pembuatan Asam Asetat : BAB I

BAB I

PENDAHULUAN



1.1. Sejarah Asam Asetat

Asam asetat atau cuka telah dikenal manusia sejak dahulu kala. Cuka dihasilkan oleh berbagai bakteri penghasil asam asetat, dan asam asetat merupakan hasil samping dari pembuatan bir atau anggur. Penggunaan asam asetat sebagai pereaksi kimia juga sudah dimulai sejak lama. Pada abat ke-3 Sebelum Masehi, Filsuf Yunani kuno Theophrastos menjelaskan bahwa cuka bereaksi dengan logam-logam membentuk berbagai zat warna, misalnya timbal putih (timbal karbonat), dan verdigris , yaitu suatu zat hijau campuran dari garam-garam tembaga dan mengandung tembaga (II) asetat. Bangsa Romawi menghasilkan sapa , sebuah sirup yang amat manis, dengan mendidihkan anggur yang sudah asam. Sapa mengandung timbal asetat, suatu zat manis yang disebut juga gula timbal dan gula Saturnus . Akhirnya hal ini berlanjut kepada peracunan dengan timbal yang dilakukan oleh para pejabat Romawi.

Pada abad ke-8, ilmuwan Persia Jabir ibn Hayyan menghasilkan asam asetat pekat dari cuka melalui distilasi. Pada masa renaisans, asam asetat glasial dihasilkan dari distilasi kering logam asetat. Pada abad ke-16 ahli kimia Jerman Andreas Libavius menjelaskan prosedur tersebut, dan membandingkan asam asetat glasial yang dihasilkan terhadap cuka. Ternyata asam asetat glasial memiliki banyak perbedaan sifat dengan larutan asam asetat dalam air, sehingga banyak ahli kimia yang mempercayai bahwa keduanya sebenarnya adalah dua zat yang berbeda. Ahli kimia Prancis Pierre Adet akhirnya membuktikan bahwa kedua zat ini sebenarnya sama. Pada 1847 kimiawan Jerman Hermann Kolbe mensintesis asam asetat dari zat anorganik untuk pertama kalinya. Reaksi kimia yang dilakukan adalah klorinasi karbon disulfida menjadi karbon tetraklorida, diikuti dengan pirolisis menjadi tetrakloroetilena dan klorinasi dalam air menjadi asam trikloroasetat, dan akhirnya reduksi melalui elektrolisis menjadi asam asetat. Sejak 1910 kebanyakan asam asetat dihasilkan daricairan piroligneous yang diperoleh dari distilasi kayu. Cairan ini direaksikan dengan kalsium hidroksida menghasilkan kalsium asetat yang kemudian diasamkan dengan asam sulfat menghasilkan asam asetat.

Sekarang ini, asam asetat diproduksi baik secara sintetis maupun secara fermentasi bakteri. Produksi asam asetat melalui fermentasi hanya mencapai sekitar 10% dari produksi dunia utamanya produksi cuka makanan. Aturan menetapkan bahwa cuka yang digunakan dalam makanan harus berasal dari proses biologiskarena lebih aman bagi kesehatan. Pembuatan asam asetat sintesis dalam skala industri lebih sering menggunakan metode karbonilasi methanol. Ada dua macam proses pembuatan asam asetat dalam pabrik yakni proses monsanto dan proses cativa. Proses monsanto menggunakan katalis kompleks Rhodium (cis−[Rh(CO)2I2]−), sedangkan proses cativa menggunakan katalis iridium ([Ir(CO)2I2]−)yang didukung oleh ruthenium.

1.2. Kegunaan Asam Asetat

Asam asetat digunakan sebagai pereaksi kimia untuk menghasilkan berbagai senyawa kimia. Sebagian besar (40 - 45%) dari asam asetat dunia digunakan sebagai bahan untuk memproduksi monomervinil asetat (vinyl acetate monomer, VAM). Selain itu asam asetat juga digunakan dalam produksi anhidrida asetat dan juga ester. Penggunaan asam asetat lainnya, termasuk penggunaan dalam cuka relatif kecil.
Beberapa kegunaan lain asam asetat
• Penambah rasa pada makanan dalam industri makanan
• Memperbaiki flavor pada pembuatan mayonaise
• Memperbaiki flavor dan pengawet pada pembuatan acar
• Antiseptik
• Mencegah tumbuhnya jamur pada roti

Rabu, 28 Maret 2012

Beberapa Asam Organik

1) Aspirin atau asam asetilsalisilat (asetosal) adalah suatu jenis obat dari keluarga salisilat yang sering digunakan sebagai analgesik (terhadap rasa sakit atau nyeri minor), antipiretik (terhadap demam), dan anti-inflamasi. Aspirin juga memiliki efek antikoagulan dan digunakan dalam dosis rendah dalam tempo lama untuk mencegah serangan jantung.
Asal dari obat yang dikenal dengan "Aspirin" - ternyata dari jaman Yunani kuno, dan diperkenalkan oleh Bapak Para Dokter se-dunia - yaitu Hippocrates. Tentu saja Hippocrates tidak menyebut Aspirin, melainkan menyebut tumbuhan bernama willow yang bila batangnya dikeringkan dan dijadikan bubuk, dapat menghilangkan rasa sakit.
Ribuan tahun berlalu, hingga di tahun 1829, para ilmuwan berhasil mengisolasi bahan dalam tumbuhan willow yang berfungsi meredakan rasa sakit. Bahan tersebut bernama salicin. Bahan ini dapat menghilangkan sakit, tapi memiliki efek samping terhadap perut - manfaat dan mudaratnya sama besar. Tentu saja harus ada jalan keluar. Di tahun 1853, seorang ahli kimia Perancis bernama Charles Frederic Gerhardt berhasil menetralkan salicin alami menjadi asam salisilat (salicylic acid) lewat penyanggaan (buffering) dengan natrium dan asam asetat. Asam salisilat ini lebih "ramah" terhadap perut.
Di tahun 1899, seorang ahli kimia Jerman, bernama Felix Hoffmann, yang bekerja bagi Bayer, menemukan kembali formula Gerhardt. Hoffmann membujuk Bayer untuk memasarkan obat itu, yang selanjutnya muncul di pasar dengan nama pasaran "Aspirin".
Aspirin adalah obat pertama yang dipasarkan dalam bentuk tablet. Sebelumnya, obat diperdagangkan dalam bentuk bubuk (puyer). Dalam menyambut Piala Dunia FIFA 2006 di Jerman, replika tablet aspirin raksasa dipajang di Berlin sebagai bagian dari pameran terbuka Deutschland, Land der Ideen.
2) Asam format (nama sistematis: asam metanoat) adalah asam karboksilat yang paling sederhana. Asam format secara alami terdapat pada antara lain sengat lebah dan semut. Asam format juga merupakan senyawa intermediet (senyawa antara) yang penting dalam banyak sintesis kimia. Rumus kimia asam format dapat dituliskan sebagai HCOOH atau CH2O2.
Di alam, asam format ditemukan pada sengatan dan gigitan banyak serangga dari ordo Hymenoptera, misalnya lebah dan semut. Asam format juga merupakan hasil pembakaran yang signifikan dari bahan bakar alternatif, yaitu pembakaran metanol (dan etanol yang tercampur air), jika dicampurkan dengan bensin. Nama asam format berasal dari kata Latin formica yang berarti semut. Pada awalnya, senyawa ini diisolasi melalui distilasi semut. Senyawa kimia turunan asam format, misalnya kelompok garam dan ester, dinamakan format atau metanoat. Ion format memiliki rumus kimia HCOO−.
3) Vitamin C adalah nutrien dan vitamin yang larut dalam air dan penting untuk kehidupan serta untuk menjaga kesehatan. Vitamin ini juga dikenal dengan nama kimia dari bentuk utamanya yaitu asam askorbat.
Vitamin C berhasil di isolasi untuk pertama kalinya pada tahun 1928 dan pada tahun 1932 ditemukan bahwa vitamin ini merupakan agen yang dapat mencegah sariawan. Albert Szent-Györgyi menerima penghargaan Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 1937 untuk penemuan ini.
4) Asam piruvat (CH3COCO2H) adalah sebuah asam alfa-keto yang memiliki peran penting dalam proses-proses biokimia. Anion karboksilat dari asam piruvat disebut piruvat.
Asam piruvat adalah cairan tak berwarna, dengan bau yang mirip asam asetat. Asam piruvat bercampur dengan air, dan larut dalam etanol dan dietil eter. Di laboratorium, asam piruvat dibuat dengan cara memanaskan campuran asam tartarat dengan kalium bisulfat, atau melalui hidrolisis asetil sianida, yang dibuat melalui reaksi asetil klorida dan kalium sianida.

Piruvat adalah suatu senyawa kimia yang penting dalam biokimia. Senyawa ini merupakan hasil metabolisme glukosa yang disebut glikolisis. Sebuah molekul glukosa terpecah menjadi dua molekul asam piruvat, yang kemudian digunakan untuk menghasilkan energi. Jika tersedia cukup oksigen, maka asam piruvat diubah menjadi asetil-KoA, yang kemudian diproses dalam siklus Krebs. Piruvat juga dapat diubah menjadi oksaloasetat melalui reaksi anaploretik yang kemudian dipecah menjadi molekul-molekul karbon dioksida. Nama siklus ini diambil dari ahli biokimia Hans Adolf Krebs, pemenang Hadiah Nobel 1953 bidang fisiologi, karena ia berhasil mengidentifikasi siklus tersebut).
Jika tidak tersedia cukup oksigen, asam piruvat dipecah secara anaerobik, menghasilkan asam laktat pada hewan dan manusia, atau etanol pada tumbuhan. Piruvat diubah menjadi laktat menggunakan enzim laktat dehidrogenase dan koenzim NADH melalui fermentasi laktat, atau menjadi asetaldehida dan lalu etanol melalui fermentasi alkohol.
Asam piruvat juga dapat diubah menjadi karbohidrat melalui glukoneogenesis, menjadi asam lemak atau energi melalui asetil-KoA, menjadi asam amino alanin dan juga menjadi etanol. Turunan asam piruvat, 3-bromopiruvat telah dipelajari untuk pengobatan kanker.
5) Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimia asam organik yang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan. Asam cuka memiliki rumus empiris C2H4O2. Rumus ini seringkali ditulis dalam bentuk CH3-COOH, CH3COOH, atau CH3CO2H. Asam asetat murni (disebut asam asetat glasial) adalah cairan higroskopis tak berwarna, dan memiliki titik beku 16.7°C.
Asam asetat merupakan salah satu asam karboksilat paling sederhana, setelah asam format. Larutan asam asetat dalam air merupakan sebuah asam lemah, artinya hanya terdisosiasi sebagian menjadi ion H+ dan CH3COO-. Asam asetat merupakan pereaksi kimia dan bahan baku industri yang penting. Asam asetat digunakan dalam produksi polimer seperti polietilena tereftalat, selulosa asetat, dan polivinil asetat, maupun berbagai macam serat dan kain. Dalam industri makanan, asam asetat digunakan sebagai pengatur keasaman. Di rumah tangga, asam asetat encer juga sering digunakan sebagai pelunak air. Dalam setahun, kebutuhan dunia akan asam asetat mencapai 6,5 juta ton per tahun. 1.5 juta ton per tahun diperoleh dari hasil daur ulang, sisanya diperoleh dari industri petrokimia maupun dari sumber hayati.
Asam asetat merupakan nama trivial atau nama dagang dari senyawa ini, dan merupakan nama yang paling dianjurkan oleh IUPAC. Nama ini berasal dari kata Latin acetum, yang berarti cuka. Nama sistematis dari senyawa ini adalah asam etanoat. Asam asetat glasial merupakan nama trivial yang merujuk pada asam asetat yang tidak bercampur air. Disebut demikian karena asam asetat bebas-air membentuk kristal mirip es pada 16.7°C, sedikit di bawah suhu ruang.
Singkatan yang paling sering digunakan, dan merupakat singkatan resmi bagi asam asetat adalah AcOH atau HOAc dimana Ac berarti gugus asetil, CH3−C(=O)−. Pada konteks asam-basa, asam asetat juga sering disingkat HAc, meskipun banyak yang menganggap singkatan ini tidak benar. Ac juga tidak boleh disalahartikan dengan lambang unsur Aktinium (Ac).
6) Asam oksalat adalah senyawa kimia yang memiliki rumus H2C2O4 dengan nama sistematis asam etanadioat. Asam dikarboksilat ini biasa digambarkan dengan rumus HOOC-COOH. Merupakan asam organik yang relatif kuat, 10.000 kali lebih kuat daripada asam asetat. Di-anionnya, dikenal sebagai oksalat, juga agen pereduktor.
Banyak ion logam yang membentuk endapan tak larut dengan asam oksalat, contoh terbaik adalah kalsium oksalat (CaOOC-COOCa), penyusun utama jenis batu ginjal yang sering ditemukan.

Sabtu, 10 Maret 2012

Air Berada Didalam tubuh 10-50 hari


Ternyata proses perjalanan air minum yang dikonsumsi manusia amat panjang. Yaitu mulai dari penyerapan, disalurkan, lalu terakhir diperbaharui.

Jadi, anggapan bahwa setelah minum air, maka segera akan dikeluarkan beberapa jam kemudian, ternyata salah. Air yang diminum saat ini bisa jadi baru akan keluar sebagai urine 10 sampai 50 hari kemudian.

Prosesnya sebagai berikut. Seusai diminum, air akan masuk ke saluran pencernaan lantas diserap oleh pembuluh kapiler dan pembuluh darah untuk menuju ke semua sel-sel darah.

Air lalu menjangkau ke sel tubuh manusia, kemudian tersebar disekitar dan juga di dalam sel tersebut. Prof. Francois Peronnet dari Universitas Montreal menemukan bahwa butuh waktu 5 menit bagi air untuk sampai ke dalam sel.

Sedangkan proses hingga keluar kembali berupa urine, keringat, uap pernafasan, dan juga tinja adalah sekitar 10-50 hari.

Sebagai komponen yang penting peranannya bagi tubuh manusia, butuh 2 liter air sehari agar kerja tubuh dan sel tidak terganggu.

Semakin banyak mengkonsumsi air, maka akan makin cepat proses regenerasi kadar air di dalam tubuh. Jika manusia minum 2 liter air hari ini, maka 2 liter air yang telah berada dalam tubuh selama 10 hari akan dibuang.

Jadi, karena lamanya perjalanan air di dalam tubuh, baik sekali jika kita mengkonsumsi air putih lebih banyak, agar proses kerja sel tubuh juga lancar.

Diduga Bersifat Karsinogenik, Komposisi Bahan Coca Cola Dan Pepsi Diubah


Sejumlah kandungan methylimidazole yang terdapat di produk Coca Cola dan Pepsi diduga menjadi zat karsinogen yang menimbulkan risiko kanker. Inilah yang kemudian dijadikan alasan bagi hukum di California untuk memberikan peringatan bagi produsen softdrink untuk menurunkan kadar methylimidazole pada produknya.

Selama ini, menurut percobaan pada tikus, methylimidazole yang kerap dijadikan pewarna pewarna karamel diduga kuat memicu kanker yang muncul pada hewan pengerat itu. Pada konsumsi berlebihan, sifat zat kimia tersebut menjadi karsinogenik.

Mungkin peringatan ini tepat bagi mereka yang sudah kecanduan softdrink. Pasalnya, menurut US Food and Drug Administration, butuh sekitar 1.000 Coca Cola dan Pepsi agar methylimidazole berubah menjadi penyebab kanker yang mematikan.

Meski pun belum ada korban yang benar-benar kena kanker akibat softdrink, Coca Cola dan Pepsi merespon aturan baru itu. Mereka akan mengubah komposisi pembuatan cola dengan menurunkan methylimidazole sampai empat persen. Jika kedua raksasa produsen cola itu tidak melakukan hal ini, produk mereka harus rela tertempel label “peringatan bahaya kanker”. Pastinya, hal itu akan memengaruhi minat konsumen.
“Sementara kami percaya, tidak ada risiko kesehatan masyarakat. Kami telah meminta pemasok karamel untuk mengambil langkah ini,” ujar Diana Garza-Ciarlante, perwakilan Coca Cola, dikutip Associated Press.

Everton Vs Tottenham 1-0: Kembali Tertunduk


Tottenham Hotspur kembali melanjutkan periode negatif mereka setelah ditundukkan Everton 1-0, Minggu (11/3) di Stadion Goodison Park. Hasil ini menambah rentetan hasil buruk di dua pertandingan sebelumnya kala dikalahkan oleh Arsenal dan Manchester United.Di awal pertandingan, kedua tim seperti masih mencari ritme permainan. Tak ada serangan-serangan mematikan yang dibangun oleh kedua kubu.

Peluang emas didapat Everton di menit 20. Setelah mampu melewati satu pemain Spurs, Marouane Fellaini melepaskan tendangan dari sisi kiri yang masih mampu diblok Brad Friedel.

Everton akhirnya mampu unggul dua menit berselang. Kecerdikan Leon Osman melewati Younes Kaboul dilanjutkan dengan umpan manis pada Nikica Jelavic yang langsung melepaskan tendangan dan tidak mampu dihalau Friedel. 1-0 Everton memimpin.
Spurs balas menekan. Peluang diperoleh Luka Modric di menit 31. Sayang sepakannya masih mampu digagalkan oleh Tim Howard.

Spurs terus menekan pertahanan Everton demi mencari gol penyama. Sayang hingga babak pertama berakhir, tak ada satu pun usaha mereka yang membuahkan hasil. Babak pertama diakhiri dengan keunggulan tuan rumah.

Di awal babak kedua, Jermain Defoe mendapatkan dua peluang. Namun semuanya gagal karena penyelesaian yang kurang tenang.

Permainan menjadi berjalan tidak seimbang. Spurs lebih banyak melakukan tekanan sementara Everton hanya bermain bertahan sambil sesekali mengintip peluang lewat kelengahan para pemain Spurs.

Menit 75 Spurs mampu mencetak gol. Namun sayang gol tersebut dianulir karena Defoe telah terjebak off-side sebelum menceploskan bola ke dalam gawang Howard.

Spurs terus menekan Everton. Semenjak masuknya Rafael Van der Vaart, serangan mereka menjadi lebih berbahaya.Di masa injury time, para pemain Spurs mengklaim mereka seharusnya mendapat tendangan penalti setelah bola mengenai tangan Leighton Baines di kotak penalti Everton. Namun ternyata wasit berkata lain.

Louis Saha! Eks pemain Everton ini nyaris menyamakan skor di menit akhir. Sebuah kemelut terjadi di depan gawang Everton dan tendangan Saha hanya membentur tiang gawang.

Hingga wasit Mark Halsey meniup peluit akhir pertandingan, Everton tetap unggul 1-0 dan membuat pesta perayaan 10 tahun David Moyes di Goodison Park menjadi semakin meriah.

Chelsea 1 Stoke 0: Fuller sees red as Drogba keeps Blues in the hunt


If nothing else, the prognosis looks more hopeful at Stamford Bridge than it did a week ago.
Two routine if unspectacular wins and the return of the old guard to the team have at least stemmed the bleeding on the wounded patient, though Napoli could yet inflict a mortal blow on Wednesday.
But when Didier Drogba scored the decisive goal, his 100th in the Premier League coming the day before his 34th birthday, there was a palpable sense of relief.
What might have become a dispiriting goalless draw against a well-organised Stoke side, who were reduced to 10 men after 25 minutes thanks to Ricardo Fuller's stupidity, became a morale-boosting victory.
John Terry returned, two-and-a-half weeks after his knee operation, and despite two near calamitous slip-ups, it adds to a sense of wellbeing at the club.
Fans even briefly chanted the name of caretaker manager and former player Roberto Di Matteo, who quickly acknowledged the support with a thumbs-up. Almost in the same breath, those same fans made it clear they do not approve of the talks the board have had with Rafa Benitez but, for now, order is restored, stability has returned and the essential qualification for the Champions League remains in sight.
'Today was a step in that direction and sometimes during the season you have to win like this,' said Di Matteo. 'It's not always going to be easy and pretty. We had some great games against Bolton, where we scored lots of goals and played fantastically well, but sometimes you have to win a little bit scrappy.'
It is not, you would imagine, quite what Roman Abramovich imagined when he charged Andre Villas-Boas with turning Chelsea into a new Barcelona at the start of the season. But then, needs must.
This wasn't beautiful but then it wasn't a humiliating defeat. The calm cannot last, of course, for this is Chelsea but their task was considerably aided by the inexplicable indiscipline of Fuller.
Just 25 minutes had passed when he was upended by Branislav Ivanovic.Fuller decided to pre-empt the referee and administer his own justice. As he fell to the ground, he kicked out in order to stamp on the Chelsea defender and made painful contact.
Having picked himself up, all that remained for Fuller was for Andre Marriner to send him off.


Read more: http://www.dailymail.co.uk/

Dampak Badai Matahari Bagi Indonesia


Fenomena badai matahari yang terpantau Senin, 23 Januari 2011 lalu dikhawatirkan masih membawa dampak panjang bagi operasional sistem telekomunikasi, navigasi, fungsi satelit, dan sistem perbankan. Ledakan yang terjadi di bintik matahari 1402 itu terdahsyat sejak 2005.

Badai matahari pernah menimbulkan dampak pada 1989 dan 2000 terhadap sistem kelistrikan negara- negara di lintang tinggi dan dekat kutub, antara lain Kanada. Lalu bagaimana dengan Indonesia ?

“Bagi Indonesia, fenomena alam ini tidak memberi pengaruh berarti. Badai Matahari ini diperkirakan akan mencapai ekstrem pada tahun 2013,” ujar Deputi Bidang Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin, Kamis (8/3).

Badai matahari berskala menengah tinggi itu, menurutnya, berpotensi mengganggu operasional satelit, seperti satelit komunikasi. Bila gangguan tidak dapat diatasi oleh operator satelit, ada kemungkinan akan mengganggu telekomunikasi penggunaan telepon seluler, siaran TV, dan komunikasi data perbankan.

Radiasi dari matahari itu tidak akan berefek langsung bagi tubuh manusia. Juga tidak ada efek radiasi ketika berkomunikasi menggunakan telepon seluler. Efek paparan proton hanya terjadi di wilayah kutub.

Jumat, 02 Maret 2012

PEMBUATAN ARANG AKTIF


Di negara tropis masih dijumpai arang yang dihasilkan secara tradisional, itu
dengan menggunakan drum atau lubang dalam tanah, dengan tahap pengolahan
sebagai berikut: bahan yang akan dibakar dimasukkan dalam lubang atau drum
yang terbuat dari plat besi. Kemudian dinyalakan sehingga bahan baku tersebut
terbakar, pada saat pembakaran, drum atau lubang ditutup sehingga hanya
ventilasi yang dibiarkan terbuka. lni bertujuan sebagai jalan keluarnya asap.
Ketika asap yang keluar berwarna kebiru-biruan, ventilasi ditutup dan dibiarkan
selama kurang lebih kurang 8 jam atau satu malam. Dengan hati-hati lubang
atau dibuka dan dicek apakah masih ada bara yang menyala. Jika masih ada
yang atau drum ditutup kembali. Tidak dibenarkan mengggunakan air untuk
mematikan bara yang sedang menyala, karena dapat menurunkan kwalitas
arang.
Selain cara di atas, arang juga dapat menghasilkan dengan cara destilasi kering.
Dengan cara ini, bahan baku dipanaskan dalam suatu ruangan vakum. Hasil yang
diperoleh berupa residu yaitu arang dan destilat yang terdiri dari campuran
metanol dan asam asetat. Residu yang dihasilkan bukan merupakan karbon
murni, tetapi masih mengandung abu dan ter yang mempunyai titik didih 1991.
Hasil yang diperoleh seperti metanol, asam asetat dan arang tergantung pada
bahan baku yang digunakan dan metoda destilasi.
Proses aktifasi merupakan hal yang penting diperhatikan disamping bahan baku
yang digunakan. Yang dimaksud dengan aktifasi adalah suatu perlakuan terhadaparang yang bertujuan untuk memperbesar pori yaitu dengan cara memecahkan
ikatan hidrokarbon atau mengoksidasi molekul- molekul permukaan sehingga
arang mengalami perubahan sifilt, baik fisika maupun kimia, yaitu luas
permukaannya bertambah besar dan berpengaruh terhadap daya adsorpsi.
Metoda aktifilsi yang umum digunakan dalam pembuatan arang aktif adalah:
a. Aktifasi Kimia: proses pemutusan rantai karbon dari senyawa organik dengan
pemakian bahan-bahan kimia
b. Aktifasi Fisika: proses pemutusan rantai karbon dari senyawa organik dengan
bantuan panas, uap dan CO2
Untuk aktifasi kimia, aktifator yang digunakan adalah bahan-bahan kimia seperti:
hidroksida ligam alkali garam-garam karbonat, klorida, sulfat, fosfat dari logam
alkali tanah dan khususnya ZnCl2 , asam-asam anorganik seperti H2SO4 dan
H4PO4 .
Untuk aktifasi fisika, biasanya arang dipanaskan didalam furnace pada
temperatur 800-900°C. Oksidasi dengan udara pada temperatur rendah,
merupakan reaksi eksoterm sehingga sulit untuk mengontrolnya. Sedangkan
pemanasan dengan uap atau CO2 pada temperatur tinggi merupakan reaksi
endoterm, sehingga lebih mudah dikontrol dan paling umum digunakan.
Beberapa bahan baku lebih mudah untuk diaktifasi jika diklorinasi terlebih
dahulu. Selanjutnya dikarbonisasi untuk menghilangkan hidrokarbon yang
terklorinasi dan akhimya diaktifasi dengan uap.
Juga memungkinkan untuk memperlakukan arang kayu dengan uap belerang
pada temperatur 500°C dan kemudian desulfurisasi dengan H2 untuk
mendapatkan arang dengan aktifitas tinggi.
Dalam beberapa bahan barang yang diaktifasi dengan percampuran bahan kimia,
diberikan aktifasi kedua dengan uap untuk memberikan sifat fisika tertentu
barang tidak dikembangkan oleh aktifasi kimia.
Arang aktif sebagai pemucat, dapat dibuat dengan aktifasi kimia. Bahan laku
dicampur dengan bahan-bahan kimia, kemudian campuran tersebut dipanaskan
pada temperatur 500-900°C. Selanjutnya didinginkan, dicuci untuk
menghilangkan dan memperoleh kembali sisa-sisa zat kimia yang digunakan.
Akhirnya, disaring dan dikeringkan. Bahan baku dapat dihaluskan sebelum atau
setelah aktifasi.
Arang aktif sebagai penyerap uap, juga dapat dibuat dengan aktifasi kimia.
Sebagai contoh, digunakan serbuk gergaji sebagai bahan dasar dan H3PO4, ZnCl2,
K2S atau KCNS sebagai aktifator. Biasanya, seratus bagian bahan baku yang
telah dihaluskan dicampur dengan larutan yang mengandung 50-100 bagian
aktifator. Kemudian dipanaskan dalam pencampur mekanik untuk menguapkan
air, selanjutnya campuran yang masih panas tersebut dibentuk menjadi blokblok,
dihancurkan kembali dan dikarbonisasi pada 500 -900°C, didinginkan, dicuci
untuk menghilangkan dan memperoleh kembali bahan-bahan kimia yang
digunakan untuk selanjutnya dikeringkan.
Proses yang melibatkan oksidasi selektif dari bahan baku dengan udara, juga
digunakan baik untuk pembuatan arang aktif sebagai pemucat maupun sebagai
penyerap uap. Bahan baku dikarbonisasi pada temperatur 400-500°C untuk
mengeleminasi zat-zat yang mudah menguap. Kemudian dioksidasi dengan gas
pada 800-10000C untuk mengembangkan pori dan luas permukaan.

1. Proses Kimia: bahan baku dicampur dengan bahan-bahan kimia tertentu,
kemudian dibuat pada. Selanjutnya pada tersebut dibentuk menjadi batangan
dan dikeringkan serta dipotong-potong. Aktifasi dilakukan pada temperatur
100°c. Arang aktif yang dihasilkan, dicuci dengan air selanjutnya dikeringkan
pada temperatur 300 °c. Dengan proses kimia, bahan baku dapat
dikarbonisasi terlebih dahulu, kemudian dicampur dengan bahan-bahan kimia.
2. Proses Fisika: bahan baku terlebih dahulu dibuat arang. Selanjutnya arang
tersebut digiling, diaysk untuk selanjutnya diaktifasi dengan cara pemanasan
pada temperatur 1000 °c yang disertai pengaliran uap. Proses fisika banyak
digunakan dalam aktifasi arang antara lain:
a. Proses Briket: bahan baku atau arang terlebih dahulu dibuat briket,
dengan cara mencampurkan bahan baku atau arang halus dengan ter.
Kemudian, briket yang dihasilkan dikeringkan pada 550°c untuk
selanjutnya diaktifasi dengan uap.
b. Destilasi kering: merupakan suatu proses penguraian suatu bahan akibat
adanya pemanasan pada temperatur tinggi dalam keadaan sedikit mau
tanpa udara. Dengan cara destilasi kering, diharapkan daya serap arang
aktif yang menghasilkan dapat menyerupai atau lebih baik dari pada daya
serap arang aktif yang diaktifkan dengan menyertakan bahan-bahan
kimia. Juga dengan cara ini, pencemaran lingkungan sebagai akibat
adanya penguraian senyawa-lenyawa kimia dari bahan-bahan pada saat
proses pengarangan dapat diihindari. Selain itu, dapat dihasilkan asap cair
sebagai hasil pengembunan uap hasil penguraian senyawa-senyawa
organik dari bahan baku.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost